Showing posts with label Islamic World. Show all posts
Showing posts with label Islamic World. Show all posts

Thursday, December 15, 2011

Hukum Pakaian Ketat Bagi Wanita

Hukum Pakaian Ketat Bagi Wanita Dihadapan Mahram

S : Apa hukum memakai baju ketat bagi wanita di hadapan mahramnya ?
J : Mengenakan baju ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh dan menimbulkan fitnah itu haram hukumnya. Karena nabi bersabda :


Ada dua golongan dari penduduk Neraka yang keduanya belum pernah aku lihat, pertama: satu kaum yang memiliki cemeti-cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. Kedua: para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menyimpangkan lagi menyelewengkan orang dari kebenaran. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring/condong…
dst.

Telah di tafsirkan makna berpakaian tapi telanjang yaitu mengenakan pakaian yang kecil yang tidak menutupi bagian-bagian yang wajib di tutupi dari aurat, dan ada penafsiran lain yaitu mereka mengenakan pakaian yang tipis sehingga terlihat apa yang di balik pakaian tersebut. Dan ditafsirkan juga bahwasanya mereka mengenakan pakaian sempit yang menutup auratnya dari pandanagn orang, akan tetapi terlihat lekuk-lekuk tubuhnya.
Oleh karena itu dilarang bagi wanita mengenakan pakaian yang ketat kecuali di hadapan orang yang boleh melihat auratnya, yaitu suami mereka. Maka sesungguhnya tidak ada aurat antara suami dan istri. 

Berdasarkan firman Allah ta’ala :

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al Mu’minun : 5-6)
Dan Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

Aku dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Tangan kami bergantian menciduk air di dalam bejana tersebut. Sedangkan baju ketat tidak boleh dipakai di depan mahramnya ataupun di depan wanita lain, jika pakaian itu terlalu ketat sehingga terlihat semua lekuk tubuhnya. ( Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin )

Monday, December 5, 2011

Puasa Sunnah

Segala pujian yang terbaik hanya milik Alloh Ta’ala yang telah mensyariatkan bagi hamba-Nya ibadah-ibadah yang sunnah di samping ibadah yang wajib. Sehingga kaum muslimin mempunyai kesempatan yang amat banyak untuk menutupi dan menambal kekurangan yang ada pada ibadah-ibadah wajib. Dan juga sebagai simpanan yang dapat memperberat timbangan di hari kiamat kelak. Di antara ibadah sunnah yang disyariatkan oleh Alloh kepada umat ini adalah puasa sunnah.
Adapun macam-macam puasa sunnah beserta keutamaannya masing-masing yaitu:

  1. Puasa enam hari di bulan Syawal, baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).

  2. Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adlah hari raya kurban dan diharomkan untuk berpuasa.

  3. Puasa hari Arofah, yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaan: akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.

  4. Puasa Muharrom, yaitu puasa pada bulan Muharrom terutama pada hari Assyuro’. Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)

  5. Puasa Assyuro’. Hari Assyuro’ adalah hari ke-10 dari bulan Muharrom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro’ ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).

  6. Puasa Sya’ban. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Keutamaan: bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Robb semesta alam (HR. An-Nasa’i & Abu Daud, hasan).

  7. Puasa pada bulan Harom (bulan yang dihormati) yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan-bulan tersebut termasuk ibadah puasa.

  8. Puasa Senin dan Kamis. Namun tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Alloh.

  9. Puasa tiga hari setiap bulan. Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Sehingga tidaklah benar anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa puasa pada harai putih adalah puasa dengan hanya memakan nasi putih, telur putih, air putih, dsb.

  10. Puasa Dawud, yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Alloh (HR. Bukhori-Muslim).

Demikianlah beberapa jenis puasa sunnah yang disyariatkan dalam agama ini. Kita memohon kepada Alloh agar diberikan rasa cinta dalam diri kita terhadap amalan yang dapat mendekatkan diri ini kepadaNya.

Thursday, November 24, 2011

Siapakah wanita pertama yang masuk surga?

Bismillaahirrohmanirrohiim. .

"Siapakah wanita pertama yang masuk surga?" Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah, menanyakan hal itu kepada ayahandanya.

"Mutiah," jawab Rasulullah.

Fatimah berfikir dalam hatinya, Siapa Mutiah itu? Apa yang dilakukannya sampai ia mendapat kemuliaan yang begitu tinggi hingga menjadi wanita pertama yang masuk surga?

Fatimah sangat ingin tahu. Hatinya penasaran..
Ia akan mengunjungi wanita bernama Mutiah itu.

Lalu keesokan harinya Fatimah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib. Ketika ia akan berangkat mencari wanita yang bernama Mutiah, Sementara anak sulungnya yang masih kecil merengek minta ikut.
Anak itu bernama Al Hasan. Fatimah pun mengajak serta Al Hasan.
Akhirnya Fatimah menemukan rumah Mutiah..

Tiba di depan rumah Mutiah, Fatimah bersalam.
"Assalamu alaikum!"
"Alaikumussalam!" sahut Mutiah dari dalam rumahnya.

"Siapa di luar?"
"Fatimah,.. putri Rasulullah."


Lalu tak berapa lama Fatimah mendengar suara langkah kaki yang bergegas semakin mendekati pintu yg masih tertutup itu.

"Alhamdulillah, betapa bahagia aku hari ini menerima kunjungan putri mulia ini..!
Apa Anda sendirian, Fatimah?"
sambut Mutiah

"Aku ditemani anakku Al Hasan." jawab Fatimah

Mutiah sambil melihat ke bawah terdapat seorang bocah kecil
"Aduh, maaf Fatimah. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki."

"Tetapi Al Hasan kan masih kecil." sahut Fatimah keheranan..

"Biarpun masih kecil, Al Hasan itu laki-laki. Datanglah besok. Saya akan meminta izin suami saya untuk menerima tamu laki-laki." ujar Mutiah.

Fatimah heran bukan main. Ia segera berpamitan dan bergegas pulang.

Keesokan harinya, Fatimah datang lagi. Selain Al Hasan, Al Husain juga ikut. Al Husain adalah anak kedua Fatimah, adiknya Al- Hasan.

Seperti kemarin, Fatimah bersalam di depan pintu rumah Mutiah.

"Apa Anda bersama Al Hasan, Fatimah?" tanya Mutiah dari dalam rumahnya.

"Ya. Al Husain juga ikut." jawab Fatimah dengan tersenyum.

Mutiah sambil melihat kedua bocah kecil itu.
"Oh, maaf Fatimah. Saya hanya mendapat izin untuk menerima tamu Al-Hasan. Saya belum meminta izin untuk menerima Al Husain. Kemarin Anda tidak bilang akan datang bersama Al Husain."

"Datanglah besok. Saya akan meminta izin suami saya untuk menerima Al Husain", Mutiah berkata dengan rasa bersalah..

Fatimah lalu pulang tanpa bisa memasuki rumah Mutiah dengan masih dalam keadaan heran.

Baru keesokan harinya Fatimah bisa memasuki rumah itu bersama anak-anaknya Al Hasan dan Al Husain.

Hmm.. Fatimah merasakan rumah itu sangat sederhana, namun bersih dan nyaman sekali. Sekeliling ruangannya harum dan rapi, membuat orang betah tinggal di dalamnya. Al Hasan dan Al Husain yang biasanya tidak suka berada di rumah orang pun menjadi betah bermain dan tinggal di sana.

"Maaf, saya tidak bisa menemani Anda, Fatimah. Saya harus menyiapkan makanan untuk suami saya. Silahkan istirahat dulu ya.." kata Mutiah.

Mutiah terus sibuk di dapur untuk memasak. Ketika masakan itu sudah siap, Ia menaruhnya di atas baki meja makan dan menaruh sebatang cambuk pula di samping hidangan makanan tersebut.

"Saya akan mengantar makanan kepada suami saya yang sedang bekerja, Maaf, saya tidak bisa menemani Anda." kata Mutiah

Fatimah tersenyum..
Sekali lagi Fatimah melihat cambuk di atas baki itu.. 
"Hmm seperti cambuk gembala kambing”, gumamnya

"Apa suamimu seorang gembala?" tanya Fatimah.

"Bukan. Suami saya petani." jawab Mutiah

"Mengapa kau membawa cambuk kepadanya?" tanya Fatimah penuh keheranan

"Cambuk ini akan saya berikan kepada suami saya. Selagi dia makan, saya akan bertanya apa makanan itu cocok bagi seleranya. Kalau dia bilang tidak, saya minta dia mencambuk punggung saya. Itu sebagai hukuman bagi saya sebagai seorang istri yang tidak bisa menyenangkan hati suaminya." kata Mutiah

"Apa suamimu orang kejam yang suka menyiksa istri?" tanya Fatimah semakin keheranan

"Bukan, sama sekali bukan. Suami saya sangat lembut dan pengasih. Sayalah yang meminta dia mencambuk punggung saya kalau makanan ini tidak cocok dengan seleranya. Itu saya lakukan agar saya tidak menjadi istri yang durhaka kepada suami." jawab Mutiah sambil tersenyum.

Setelah itu Fatimah pulang bersama anak-anaknya..

Di jalan Fatimah kembali bergumam..
"hmmm.. Pantaslah kalau dia mendapat kehormatan untuk menjadi wanita yang pertama kali memasuki surga"

Fatimah kagum bukan main kepada Mutiah.. "Seorang istri yang sangat taqdim dan berbakti kepada suaminya."

Subhannallah. .

*Semoga menjadi bacaan yg bermanfaat untuk kita semua, khususnya untuk kaum akhwat. ^_^

Surat Al-Fatihah


  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1:1)
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, (QS. 1:2)
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1:3)
  4. Yang menguasai hari pembalasan. (QS. 1:4)
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. 1:5)
  6. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1:6)
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1:7)


Inilah arti/makna dari Surat Al-Fatihah:

Ayat 1: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau tepatnya pengakuan manusia atas kuasa Tuhan, atas keesaan-Nya dan atas segala kebesarann-Nya. Manusia diajarkan dan diharuskan mengakui ke-Maha Pemurah-an Tuhan dan ke-Maha Penyayang-an-Nya. Di sini, pengakuan-pengakuan itu merupakan harga mati atas setiap manusia. Jadi, ayat ini bukan sekedar mengajarkan 'penyebutan' atas [nama] Tuhan, melainkan deklarasi atas kebesaran-Nya, yang pada ayat itu direpresentasikan melalui lafadz  ar-rahman dan ar-rahim.

Ayat 2: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,"
Setelah manusia mengakui segala kebesaran Tuhan, maka pada ayat kedua ini Tuhan melalui surat Al-Fatihah menasehatkan manusia supaya melakukan pendekatan pribadi kepada-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya. Ini adalah langkah pertama yang harus dilakukan manusia setelah ia menegaskan pengakuan tadi. Sebenarnya, kebesaran Tuhan tidaklah berkurang tanpa pujian manusia dan segenap makhluk, dan kebesaran-Nya pun tidak pula bertambah dengan adanya pujian-pujian itu. Dengan demikian, ayat ini sebenarnya lebih menekankan kepada pengajaran [at-Ta'lim] dan pendidikan [at-Tarbiyah] kepada manusia bagaimana dia berkomunikasi dengan Tuhan yang telah dikenalnya tadi.
Pujian kepada Tuhan bukan tanpa sebab. Ia adalah pujian atas seluruh kenikmatan yang telah diterima manusia. Kenikmatan terbesar dari Tuhan kepada manusia, pada titik ini, adalah kenikmatan berupa pengetahuan manusia atas Tuhannya. Ia bukan kenikmatan dalam arti sempit seperti limpahan rezeki material dan semacamnya. Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW, maka Allah SWT mengikutinya dengan ucapan hamida-ni 'abdi, hambaku telah memujiku. Masih menurut Nabi Muhammad SAW, pada saat hamba mengucapkan ayat ini, maka itu berarti hamba tersebut bersyukur kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun akan menambahi rezeki.

Ayat 3: "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
Pengulangan pujian ini untuk sebuah penegasan. Ar-Rahman bermakna [Tuhan] yang Maha Pemurah, atau Pengasih. Dia mengasihi seluruh makhluk yang ada di dunia, baik yang beriman atau yang bukan. Sedangkan ar-Rahim bermakna mengasihi seluruh orang-orang yang beriman kelak di akhirat.
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW, maka Allah SWT mengikutinya dengan ucapan atsna 'alayya 'abdi, hambaku telah memuji kepadaku.

Ayat 4: "Yang menguasai hari pembalasan."
Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada hari kiamat. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah pendidikan dari Tuhan kepada manusia. 
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW, maka Allah SWT mengikutinya dengan ucapan majida-ni 'abdi, hambaku telah memujiku.

Ayat 5: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."
Setelah Tuhan mengajarkan manusia untuk melakukan pendekatan dengan memuji-Nya, maka pada ayat kelima ini Tuhan memberikan pendidikan baru : yaitu, setelah manusia melakukan puja dan puji kepada Tuhan, manusia meneguhkan diri dengan melakukan deklarasi untuk secara konsisten menyembah kepada-Nya. 
Pada ayat di atas, Tuhan menggunakan kalimat Iyyaka Na'budu, yang berarti Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan bukan kalimat Na'budu-Ka, yang berarti Kami menyembah kepada-Mu. Pada kalimat pertama secara jelas menegasikan seluruh hal dan hanya menyembah Tuhan, sedangkan kalimat kedua bisa bermakna Kami menyembah kepada-Mu, tapi juga mengagungkan yang lain.

Ayat 6: "Tunjukilah kami jalan yang lurus,"
Pengajaran Tuhan selanjutnya ; manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang lurus di sini tentulah tidak sederhana, namun ia disimplifikasi pada ayat berikutnya.

Ayat 7: "(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".
Kenikmatan Tuhan hanyalah diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki, dan itu bukanlah kepada orang-orang yang dimurkai dan yang memilih jalan sendiri. Abdullah ibn Abbas menyebutkan bahwa orang-orang yang telah dianugerahi kenikmatan oleh Tuhan, di antaranya, adalah para nabi dan orang-orang yang saleh, orang yang bersih jiwanya.
Pada saat seorang hamba membaca ayat keenam dan ketujuh, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan sama dengan pada ayat kelima hadza bayni wa bayna 'abdi, wa li-'abdi ma sa-ala, ini adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun yang dia minta.

*Demikianlah sekilas keterangan dari surat al-Fatihah. Semoga bermanfaat. ^_^
     

    catatansitomboy